Jumat, 10 Mei 2013

BAB 6 & 7 HUKUM DAGANG

CONTOH KASUS HUKUM DAGANG



Contoh Kasus Hukum Dagang mengenai Hukum Dagang Merk :

  Seorang pengusaha menciptakan sebuah produk yang kemudian menjadi barang dagangannya. Desain logo untuk merek produk tersebut ternyata sama dengan desain merk sebuah perusahaan lain yang telah lebih dahulu ada dan terdaftar, perbedaannya hanya terdapat pada nama produknya saja. Oleh karena itu, perusahaan yang telah lebih dahulu mendaftarkan itu merasa dirugikan karena logo merknya ditiru dan menggugat pengusaha yang dianggap meniru itu. Bagaimana penyelesaiannya?
  Pada dasarnya, merk adalah tanda berupa gambar, susunan warna, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki pembeda, dan digunakan dalam kegiatan perdagangan yang sama. Sedangkan merek dagang adalah merek barang yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan barang sejenis lainnya, maksudnya adalah barang yang termasuk dalam satu cabang industri atau satu cabang perdagangan yang sama.

Terdapat beberapa ketentuan mengenai merek yang tidak diperbolehkan dalam pasal 6 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001, seperti:

  1. Merek orang lain yang sudah terdaftar terlebih dahulu untuk barang dan atau jasa yang sejenis
  2. Merek yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang dan jasa sejenis
  3. Indikasi geografis yang sudah terkenal
  Maka dalam hal ini pengusaha tersebut telah melanggar apa yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang HAKI, yaitu telah membuat logo merek sama dengan logo perusahaan lain yang telah terdaftar, walaupun terdapat perbedaan pada namanya. Ini dapat dikategorikan sebagai merek sama pada pokoknya.
Maka dalam hal ini pengusaha tersebut telah melanggar hak cipta dan perusahaan yang lain tersebut berak mendapatkan keadilan atas hak kekayaan intelektual yang dimilikinya. Perusahaan tersebut dapat menggugat pengusaha lainnya terkait dengan peniruan logo.
  Pengaturan mengenai gugatan terhadap peniruan logo tersebut diatur dalam Undang-Undang HAKI pasal 76-pasal 77. Pemilik terdaftar bisa mengajukan gugatan kepada perseorangan atau badan hukum yang telah menggunakan merek tanpa hak merek barang atau merek jasa. Seperti merek mempunyai persamaan pada pokok atau keseluruhan dengan mereknya, baik merupakan gugatan ganti rugi dan atau penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek tersbut. Dalam hal ini gugatan dapat diajukan melalui Pengadilan Niaga.



Komentar :

  Sebenarnya kasus seperti yang tertulis diatas sudah sangat sering terjadi di Indonesia. Ini semua terjadi bukan hanya dari kesalahan suatu perusahaan yang dituding mencontoh logo merk dagang milik orang lain. Tetapi juga karena kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk melegalkan merk dagang milik mereka yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah mengenai hak guna merk dagang.
  Kurangnya sosialisasi mengenai hukum yang mengatur masalah merk dagang juga menjadi salah satu penyebabnya. Peran pemerintah disini juga sangat diperlukan untuk memberikan pengarahan kepada masyarakat mengenai merk dagang ini. Makatidak heran apabila sdi masa yang akan datang terjadi perebutan hak guna merk dagang. seseorang yang menggunakan sebuah merk dagang seharusnya mempunyai surat bukti yang sah mengenai kepemilikan merk dagang yang dipergunakannya.









sumber :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar